Karakteristik Peserta Didik

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Sebagai seorang pendidik tentulah pastinya kita harus mengetahui bagaimana sifat, watak, karakter dari masing-masing perserta didik yang kita aja untuk lebih memudahkan terlaksana dan tersampaikannya pembelajaran. Sebagai seorang pendidik pasti sering kewalahan untuk memahami karakteristik peserta didik yuk mari kita simak. 

1. Pengembangan Karakteristik Peserta Didik Kalian tahu tidak siapa sih peserta didik itu? Peserta Didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya apa? Peserta didik ini sedang mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya. Perubahan tersebut ada yang diarahkan kedalam diri sendiri, ada juga berupa penyesuaian diri terhadap lingkungan. Teman-teman disini Karakteristik peserta didik yang akan dibahas pada bagian ini khusus yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, sosial-emosional, moral, spiritual dan latar belakang sosial budaya.

a. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek fisik

Karakteristik peserta didik Pada usia remaja terjadi fisik yang sangat pesat. Tidak hanya pada anggota tubuh tertentu tetapi juga proporsi tubuh yang semakin besar. Nah perkembangan atau perubahan aspek fisik pada peserta didik laki-laki & perempuan jelaslah berbeda. Sedangkan Kemampuan psikomotorik berkaitan dengan keterampilan motoric yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak. Untuk jenjang pendidikan menengah atas, mata pelajaran yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor contohnya adalah pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, seni budaya, fisika, kimia, biologi, dan keterampilan.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya perubahan-perubahan fisik tersebut merupakan gejala umum dalam pertumbuhan peserta didik. Perubahan-perubahan fisik tersebut bukan hanya berhubungan dengan bertambahnya ukuran tubuh danberubahnya proporsi tubuh, akan tetapi juga meliputi ciri-ciriyang terdapatpada kelamin primer dan sekunder. Perubahan-perubahan yang peserta didik mempengaruhi perkembangan tingkah laku yang ditampakkan pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri, isolasi diri dan pergaulan, perilaku emosional, imitasi berlebihan, dan lain-lain.

b. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek intelektual

Seperti yang kita ketahui kemampuan kognitif peserta didik itu kan terus berkembang selama masa pendidikan bahkan setelah usia sekolah pun pengembangan kognitif masih memungkinkan untuk dilanjutkan. Akan tetapi belum tentu semua perubahan kognitif mengarah pada peningkatan kemampuan intelektual. Kadang-kadang ada kemampuan kognitif yang mengalami kemerosotan seiring dengan pertambahan usia. Beberapa ahli percaya, bahwa kemunduran keterampilan kognitif terjadi juga pada masa remaja akhir.Kemunduran tersebut dapat dicegah atau ditingkatkan kembali melalui serangkaian pelatihan.Perkembangan kognitif pada usia remaja sampaidengan masa dewasa awal, dikemukakan oleh Schaie (1997). Sebagai contoh, pada masa dewasa awal terdapat perubahan dari mencari pengetahuan menuju penerapan ilmu pengetahuan. Menerapkan pengetahuan yang sudah diketahui, khususnya dalam hal penentuan karier dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pernikahan dan hidup berkeluarga.


c. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek emosional

Masa remaja merupakan puncak perkembangan emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ seksual mempengaruhi perkembangan emosi dan dorongan baru yang dialami sebelumnya seperti perasaan cinta. Pada usia remaja awal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa, emosinya bersifat negatif dan temperamental. Sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya. Adapun Gejala-gejala emosional para remaja seperti perasaan sayang, marah, takut, bangga dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik.

Jadi, sebagai Pendidik perlulah kita mengetahui setiap aspek yang berhubungan dengan perubahan pola tingkah laku dalam perkembangan remaja, serta memahami aspek atau gejala tersebut sehingga dapat melakukan komunikasi yang baik dengan remaja. Perkembangan pada masa remaja merupakan suatu titik yang mengarah pada proses dalam mencapai kedewasaan.


d. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek moral

Perkembangan moral remaja sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berpikir operasional formal, kemampuan berpikir abstrak, memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotesis. Pemikiran remaja tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat, dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka (Gunarsa,1988). Melalui pengalaman atau interaksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja semakin matang dibandingkan dengan pada usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau konsep-konsep moralitas seperti kejujuran, keadilan, kesopanan, dan kedisiplinan.Pada masa ini muncul dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik oleh orang lain. Remaja berperilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasan fisiknya, tetapi juga psikologisnya (rasa puas dengan adanya penerimaan dan penilaian positif dari orang lain tentang perbuatannya).

Keragaman tingkat moral remaja disebabkan oleh faktor penentunya yang beragam juga. Salah satu faktor penentu atau yang mempengaruhi perkembangan moral remaja itu adalah orangtua. Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral, dan sikap remaja antara lain, melalui komunikasi dan menciptakan lingkungan yang serasi. Usaha pengembangan tingkah laku nilai hidup hendaknya tidak hanya mengutamakan pendekatan-pendekatan intelektual semata, tetapi juga harus mengutamakan adanya lingkungan yang kondusif di mana faktor-faktor lingkungan merupakan penjelmaan nyata dari nilai-nilai hidup tersebut.


e. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek spiritual

Kata spiritual berasal dari bahasa Inggris yaitu ‘spirituality’ yang kata dasarnya ‘spirit’ yang berarti ruh, jiwa, semangat. Kata ‘spirit’

berasal dari bahasa latin ‘spiritus’ yang berarti luas atau dalam,

keteguhan hati atau keyakinan, energy atau semangat. Kata sifat

‘spiritual’ berasal dari bahasa latin ‘spiritualis’. Hubungan antara

spiritual dan religius. Spiritualitas adalah kesadaran tentang diri

dan individu, asal, tujuan, dan nasib, sedangkan religius merupakan serangkaian produk perilaku tertentu yang dihubungkan

dengan kepercayaan yang dinyatakan.


Perkembangan spiritual lebih spesifik membahas tentang kebutuhan manusia terhadap agama. Perkembangan spiritual diartikan

sebagai tahap dimana seseorang (peserta didik) untuk

membentuk kepercayaan yang berhubungan dengan religi atau adat. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan spiritual agama:

1) Pembawaan.

2) Lingkungan keluarga.  

3) Lingkungan sekolah.

4) Lingkungan masyarakat.


f. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek sosial-budaya

Peserta didik kemungkinan berasal dari beragam budaya, etnis dan ras karena itu dapat terjadiproses akulturasi. Untuk menangani peserta didik yang beragam tersebut guru perlu memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan beragam kebutuhan peserta didik, latar belakang rasial atau etnik dan memastikan kurikulum adil dan relevan secara kultural. Guru harus peka terhadap perbedaan budaya yang dapat mempengaruhi suasana pembelajaran dikelas.Beberapa karakteristik peserta didik yang perlu diidentifikasi berkaitan dengan kelas sosial, antara lain pekerjaan, penghasilan, kekuasaan politis, dan lain-lain. Beberapa contoh efek dari perbedaan kelas sosial yaitu, pengelompokan berdasarkan kelas sosial, ini cenderung akan mempengaruhi psikis peserta didik yang kelas sosialnya rendah sehingga dapat terjadi perbedaan prestasi antara kelas sosial tinggi dengan kelas sosial rendah.


Bagi perkembangan anak didik keragaman budaya sangat besar pengaruhnya bagi mental dan moral mereka. Ini terbukti dengan sikap dan prilaku anak didik selalu dipengaruhi oleh budaya-budaya yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Pada masa-masa perkembangan, seorang anak didik sangat mudah dipengaruhi oleh budaya-budaya yang berkembangan di masyarakat, baik budaya yang membawa ke arah prilaku yang positif maupun budaya yang akan membawa ke arah perilaku yang negatif.


Melalui pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang jika dibandingkan dengan usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau konsep-konsep moralitas, seperti kejujuran, keadilan, kesopanan dan kedisiplinan.Menurut Adam dan Guallatta terdapat berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orang tua mempengaruhi moral remaja, yaitu:

1) terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat moral remaja dengan tingkat moral orang tua,

2) Ibu-ibu dari remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam tahapan nalar moralnya dari pada ibu-ibu yang anaknya nakal, dan remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam kemampuan nalar moralnya daripada remaja yang nakal dan 3) Terdapat dua faktor yang dapat meningkatkan perkembangan moral anak atau remaja yaitu (a) orang tua yang mendorong anak untuk diskusi secara demokratisdan terbuka mengenai berbagai isu dan (b) orang tua yang menerapkan disiplin terhadap anak dengan teknik berpikir induktif. Jadi, itu saja dulu ya teman-teman mengenai karakteristik peserta didik yang harus seorang pendidik ketahui dan pahami. Kurang lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat. 


Sumber :

Situmorang Jamisten. Ida Rosmawati. 2018. MODUL PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN MATEMATIKA TEKNIK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN PENGEMBANGAN SOAL KETERAMPILAN BERPIKIR ARAS TINGGI (HOTS) PEDAGOGI: Karakteristik Peserta Didik.

Komentar