Manajemen Kelas

MANAJEMEN KELAS

Keberhasilan guru melaksanakan kegiatan pembelajaran tidak hanya menuntut kemampuan menguasai materi pelajaran, strategi dan metode pembelajaran. Tetapi guru melaksanakan tugas profesionalnya dituntut kemampuan lainnya yaitu menyediakan atau menciptakan situasi dan kondisi belajar mengajar bisa terlaksana dengan baik sesuai perencanaan dan mencapai tujuan sesuai yang dikehendaki. Pengelolaan kelas adalah ketrampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran (Sanjaya, 2008:44). Kondisi kelas yang kondusif dan menyenangkan dapat terwujud apabila guru mampu mengatur suasana pembelajaran mengkondisikan siswa untuk belajar dan memanfaatkan sarana pengajaran serta dapat mengendalikan dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pelajaran. Selain itu untuk menjalin hubungan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa dubutuhkan alat-alat dan implementasi yang disediakan secara kultural seperti perpustakaan dan internet (Indriana, 2011:135).

Sebelum mengetahui lebih jauh apa itu manajemen kelas, disini akan dibahas terlebih dahulu istilah manajemen dan manajemen pendidikan, yang mana manajemen kelas adalah suatu unsur yang terdapat dalam manajemen pendidikan. Kata manajemen awalnya banyak dipahami silabus.web.id di dunia bisnis komersial. Sedangkan di dunia pendidikan sendiri lebih dikenal dengan istilah administrasi. Oleh karena itu, di lingkungan intstitusi pendidikan sangat populer dengan istilah administrasi sekolah, administrasi pendidikan, dan administrasi kelas. Apabila dilihat dari proses kerja atau fungsi organisasinya, administrasi dan manajemen memiliki makna yang sama, dan kata manajemen pun semakin populer disemua bidang baik dibidang bisnis, pemerintah maupun pendidikan.

Kebutuhan terhadap manajemen kelas bukan hanya karena kebutuhan akan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran melalui pengoptimalan fungsi kelas, akan tetapi manajemen kelas merupakan respon terhadap semakin meningkatnya tuntutan kualitas pendidikan yang dimulai dari ruang kelas. Di ruang kelas, guru dituntut untuk mampu menghasilkan peserta didik yang utuh, sesuai dengan fungsi pendidikan, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, silabus.web.id mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Manajemen kelas juga merupakan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan kelas, karena dengan demikian guru yang trampil adalah guru yang mampu mengimplementasikan fungsi-fungsi manajemen dalam berbagai program kegiatan yang ada di kelas.

Di dalam manajemen pendidikan itu sendiri terdapat beberapa ruang lingkup dan unsur-unsur di dalamnya. Di antaranya adalah manajemen siswa, manajemen kurikulum, manajemen personil, manajemen sarana dan prasarana, manajemen humas pendidikan, manajemen kelas, dan lain sebagainya. Dengan demikian manajemen kelas tidak bisa terlepas dari pembahasan manajemen pendidikan.

Bila kita merujuk pada istilah pengertian manajemen dalam Bahasa Indonesia, yaitu pengelolaan yang artinya penyelenggaraan. Maka, manajemen kelas adalah suatu bentuk penyelenggaraan proses belajar siswa, atau suatu bentuk usaha guru dalam menciptakan kondisi belajar siswa yang kondusif dan memeliharanya bila terjadi suatu kendala ke arah tujuan pembelajaran yang lebih efektif.

Menurut Sudarwan Danim “manajemen kelas adalah seni atau praksis (praktek dan strategi) kerja, yaitu guru bekerja secara individu, dengan atau melalui orang lain (bekerja sejawat atau siswa sendiri) untuk mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien”. Sedangkan menurut Moh. Uzer Usman“manajemen kelas adalah pengelolaan kelas, yaitu keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar”.

Secara sederhana manajemen kelas adalah pengaturan kondisi-kondisi belajar siswa yang kondusif dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Setelah memperoleh gambaran mengenai pengertian menajemen kelas, timbulah pertanyaan bagaimana fungsi guru dalam praktek penyelenggaraannya. Fungsi guru yang sebenarnya bukan hanya mengajar, tetapi dalam hal ini guru lebih difokuskan pada kemampuan managerial atau kedudukan dalam memimpin kelas pembelajaran. Oleh sebab itu guru bertindak sebagai manajer atau pemimpin pembelajaran di kelas yang dapat mengelola proses pembelajaran untuk mempengaruhi para siswanya supaya mau melakukan kegiatan belajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam mengelola kelas pembelajaran ini, guru berfungsi sebagai manajer. Dengan kata lain, sebagai seorang pemimpin sehingga dapat dikatakan guru sebagai seorang pemimpin dalam kelas pembelajaran. 

Guru Sebagai Manajer/Pemimpin Pembelajaran

Sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, guru mempunyai peranan dan pengaruh yang sangat besar dalam peningkatan hasil belajar siswa. Berkembangnya semangat belajar siswa, atau minat terhadap materi pembelajaran, dan suasana belajar yang menyenangkan banyak ditentukan oleh kualitas kepemimpinan guru.

Menurut Kartini Kartono“pemimpin adalah seseorang yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan kelebihan di satu bidang, sehingga ia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pecapaian satu tujuan”. Hadari Nawawi menyatakan, “kepemimpinan adalah proses mengarahkan, membimbing, mempengaruhi atau mengawasi pikiran, perasaan atau tindakan dan tingkah laku orang lain”.

Menurut buku Panduan Manajemen Sekolah “kepemimpinan guru adalah cara atau usaha guru dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakan para siswa untuk berperan aktif dalam belajar dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan”. Sedangkan Emmy Fakry menyatakan “kepemimpinan berarti kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakan, dan mengarahkan orang atau sekelompok orang agar mau melakukan atau berbuat dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.

Dari uraian pengertian pemimpin atau kepemimpinan secara implisit guru sebagai seorang pemimpin di kelas harus dapat mempengaruhi, mengatur, membimbing, membantu dan atau melayani para siswa agar mereka mau melakukan belajar ke arah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Secara sederhana fungsi kepemimpinan guru dalam manajemen kelas dapat dikategorikan dengan langkah-langkah sebagai fungsi merencanakan pembelajaran, fungsi melaksanakan pembelajaran, dan fungsi mengawasi atau mengendalikan pelaksanaan pembelajaran. 

Dalam pelaksanaan pembelajaran fungsi-fungsi manajemen ini merupakan kesatuan yang tidak dapat terpisahkan pada keterampilan guru sebagai manajer atau pemimpin dalam kelas. Bahkan fungsi-fungsi ini merupakan fungsi sentral yang dapat menjiwai perwujudan keberhasilan belajar siswa.

Dalam melakukan kegiatan menggerakkan para siswa supaya mau mengikuti belajar, atau memotivasi siswa dalam belajar berbagai cara dapat dilakukan oleh guru sebagai pemimpin di  kelas. Cara-cara ini mencerminkan sikap dan pandangan guru sebagai pemimpin terhadap siswa. Hal ini memberikan gambaran pula tentang bentuk (tipe) kepemimpinan guru yang dimiliki atau dilakukannya.

Secara teoritis dapat dibedakan adanya empat bentuk atau tipe kepemimpinan seseorang yang dilakukan, yaitu :

Tipe Kepemimpinan Otoriter

Tipe kepemimpinan ini adalah yang paling banyak dikenal, karena tergolong paling tua. Kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan seorang guru. Sejumlah siswa yang dipimpinnya dianggap sebagai pengikut yang harus taat pada dirinya apa yang menjadi kehendak harus dituruti. Sehingga guru menganggap dirinya bertindak sebagai penguasa dan siswa sebagai obyek dalam belajar.

Tipe Kepemimpinan Demokratis

Tipe kepemimpinan ini kebalikan dari tipe kepemimpinan otoriter, yaitu menempatkan atau memandang siswa sebagai faktor utama dan terpenting dalam pembelajaran. Tipe kepemimpinan ini menganggap dirinya bagian dari siswa yang bersama-sama berusaha untuk melayani kebutuhan serta bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan. Agar para siswa merasa tanggung jawab, maka secara menyeluruh diajak ikut aktif melakukan belajar. Setiap siswa dianggap sebagai potensi yang berharga dan dianggap peran atau faktor yang paling utama. Karena proses pembelajaran dapat terjadi bila adanya aktivitas para siswa.

Tipe Kepemimpinan Pseudo-Demokratis

Pseudo artinya palsu atau pura-pura. Pemimpin semacam ini berusaha memberikan kesan dalam penampilannya seolah-olah ia demokratis, tetapi memiliki tujuan otokratis dengan cara mendesakkan keinginan sendiri secara halus. Ia selalu berusaha untuk mencari perhatian orang lain agar disukai dengan bentuk sikap dan perilaku serta ucapan ditonjolkan, atau dalam suatu pertemuan/rapat ia banyak meminta pendapat/saran orang lain, untuk memberikan kesan bahwa ia lebih memperhatikan orang lain.

Selanjutnya pemimpin semacam ini dalam pelaksanaannya tidak berdasarkan hasil pendapat/saran yang diminta, ia dapat atau pandai mengubah alasan-alasan sedemikian rupa yang selalu menguntungkan diri sendiri dan menghasilkan pendapat sendiri. Jadi pemimipin pseudo-demokratis sebenarnya orang yang otokratis, tetapi ia memiliki keterampilan dalam menutup nutupi sifatnya dengan penampilan yang memberikan kesan seolah-olah ia demokratis.

Tipe Kepemimpinan Laissez-Faire

Laissez-Faire bila diterjemahkan artinya biarkan saja berjalan, atau masa bodo. Kepemimpinan semacam ini biasanya disebabkan pemimpin memberikan arti keliru pada istilah demokrasi. Demokrasi seolah-olah harus diartikan sebagai kebebasan mengemukakan dan mempertahankan pendapat masing-masing dan bebas untuk menggunakan kebijakan sendiri-sendiri. 

Jadi pimpinan hanya berusaha mencegah pertentangan-pertentangan, dan berpendapat bahwa ia sebaiknya jangan terlalu banyak berusaha mendekatkan dan mempertemukan pendapat, karena dianggapnya akan mengurangi hak dan kebebasan. Kekeliruan pemimpin semacam ini akan membawa dampak terhadap situasi yang tidak kondusif. Karena beranggapan kebebasan hak dan kewajiban ada pada masing-masing para anggota.

Padahal demokrasi yang sebenarnya bukanlah kebebasan mutlak, melainkan kebebasan yang dibatasi atau menggunakan peraturan-peraturan tertentu secara bersama-sama. Karena kebebasan mutlak bagi setiap anggota atau individu akan menjurus ke arah anarkis/kekacauan. Tipe-tipe kepemimpinan seperti tersebut, hanya bersifat analitis dan teoritis.

Langkah-langkah kegiatan manajemen kelas adalah penyusunan rangkaian kegiatan yang dilakukan guru sebagai manajer/pemimpin pembelajaran di kelas adalah Merencanakan Pembelajaran. Berkenaan dengan perencanaan, William H. Newman menyatakan, “perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari”.

Bertolak dari pengertian tersebut, bahwa dalam perencanaan terdapat rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam konteks perencanaan pembelajaran, adalah berkaitan dengan penyusunan langkah-langkah dalam pencapaian tujuan belajar siswa yang dilakukan guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan siswa supaya mau mengikuti kegiatan belajar. Singkatnya dalam perencanaan pembelajaran berkaitan erat dengan rumusan tujuan yang akan dicapai siswa atau hasil belajar siswa. Hanya saja masalahnya bagaimana implikasinya dalam perencanaan pembelajaran yang harus dibuat oleh guru sebelum mengajar dalam bentuk persiapan mengajar atau dengan sebutan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Fungsi guru dalam merencanakan pemebelajaran berorientasi karakteristik siswa yang dapat dilakukan adalah untuk membangkitkan motivasi belajar siswa secara aktif. Oleh sebab itu perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut yakni Merumuskan Tujuan Pembelajaran. Dalam hal ini, guru dituntut untuk menguasai dan mengetahui tentang tujuan yang selama ini menjadi acuan dalam rumusan pencapain tujuan pembelajaran. 

Berdasarkan taksonomi Bloom klasifikasi rumusan tujuan pembelajaran dapat dikelompokan ke dalam tiga ranah, yaitu:  (1)Ranah kognitif, yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan (recall), pengetahuan, kemampuan intelektual. (2) Ranah afektif, yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan perubahan-perubahan sikap, nilai, perasaan, dan minat. (3) Ranah psikomotorik, yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan kemampuan gerak dalam keterampilan.

Dari ketiga ranah tujuan tersebut, yaitu kemungkinan-kemungkinan hasil belajar siswa dalam bentuk tingkah laku yang diperoleh setelah pembelajaran. Rumusan tujuan pembelajaran dibuat dan diorientasikan berdasarkan analisis terhadap kebutuhan dan kemampuan siswa.  Dalam kurikulum berbasis kompetensi, istilah tujuan pembelajaran merupakan kompetensi dasar, sedangkan tujuan pembelajaran yang lebih bersifat khusus merupakan indikator yang menjadi bentuk tingkah laku hasil dari belajar berdasarkan taksonomi Bloom tadi.

Materi pokok yang dibuat berdasarkan pada pencapaian tujuan pembelajaran. Materi pokok pembelajaran merupakan alat bahkan sekaligus yang menjadi proses pengalaman bagi siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Dengan kata lain, materi pokok pembelajaran adalah pokok-pokok materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana dalam pencapaian kompetensi dasar yang disusun berdasarkan indikator hasil belajar.

Menentukan Strategi Pembelajaran Yaitu, merupakan upaya guru dalam cara penyampaian materi yang telah dibuat tadi untuk lebih mudah disampaikan kepada siswa dengan cara seefektif mungkin. Berbagai cara yang dilakukan guru dalam penyampaian materi ini adalah menggunakan metode yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan siswa yang menjadi subyek belajar. Roestiya berpendapat bahwa “di dalam proses belajar-mengajar, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar

Membuat Evaluasi/Penilaian. Evaluasi di sini merupakan alat untuk mengetahui atau mengukur sejauhmana kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan apakah tercapai sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan ataukah tidak. Dalam proses pembelajaran kegiatan evaluasi sangat perlu dilakukan oleh guru. Moh. Surya berpendapat, “salah satu kegiatan yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugas dan peranannya ialah kegiatan evaluasi”.

Pelaksanaan pembelajaran merupakan realiasi kegiatan yang telah direncanakan Moh. Surya, Psikologi Pendidikan, IKIP, Bandung, 1985,Winarno Surakhmad, Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar, Tarsito, Bandung, 1986,tau dipersiapkan sebelumnya. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pembelajaran faktor guru sangat dominan berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa. Tugas dan tanggung jawab guru dalam pelaksanaan pembelajaran meliputi: Kegiatan Awal, Menciptakan Iklim Kelas, Membuka Pelajaran.

Setelah menciptakan iklim kelas dianggap cukup, selanjutnya membuka materi pelajaran yang akan disajikan. Menurut Hunt dalam penyajian materi pelajaran meliputi lima tahapan yang disebut teori ROPES, singkatan dari kata Review, Overview, Presentase, Exercise,dan Summary.

Fungsi guru sebagai manajer atau pemimpin di kelas ia harus dapat menciptakan kondisi belajar siswa yang menarik dan menyenangkan serta menjaga dan mengembalikannya bila terjadi gangguan yang tidak diharapkan. Untuk mempertahankan kondisi yang optimal bagi terpeliharanya proses pembelajaran yang efektif diperlukan beberapa keterampilan oleh guru. Menurut Djamarah & Zain keterampilan dalam manajemen kelas terbagi dua. Pertama, keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal. Kedua, keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.

Dalam proses pembelajaran yang efektif, disamping mengajar guru harus dapat membawa siswanya mau mengikuti belajar dengan aktif, atau dapat membelajarkan siswa. Oleh karenanya guru terlebih dahulu harus dapat memperhatikan keadaan siswa yang masing-masing berbeda karakteristik dan kebutuhannya atau latar belakang keluarga baik secara individu maupun kelompok dalam kelas. 

Karakteristik dan kebutuhan siswa dalam pembelajaran perlu diperhitungkan baik-baik supaya dapat dibawa dengan mudah ke arah tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan metode/media yang disesuaikan. Untuk menciptakan iklim kelas yang kondusif, guru perlu memiliki beberapa keterampilan a) Sikap tanggap terhadap perilaku siswa yang sedang terjadi dalam proses pembelajaran.b) Membagi perhatian pada seluruh siswa, baik secara individu maupun kelompok.c) Menarik minat dan perhatian siswa pada materi yang disajikan. d) Memperlakukan adil pada siswa sebagai subyek dalam pembelajaran.


Sumber:

Ametembun, N.A., Manajemen Kelas, IKIP, Bandung, 1981.

Majid, Abdul, Perencanaan Pembelajaran, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2011.

Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar,Rineka Cipta, Jakarta, 1991.

Soekarno, Dasar-dasar Manajemen, Miswar, Jakarta, 1985.

 Sarwoto, Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen, Ghalia Indonesia Jakarta, 1991.

Komentar