Manajemen Sekolah

MANAJEMEN SEKOLAH

Secara Ontologis manajemen sekolah dan manajemen pendidikan mempunyai pengertian yang sama. Masing-masing memiliki persamaan yang sulit untuk dibedakan. Secara khusus ruang lingkup manajemen pendidikan juga merupkan ruang lingkup bidang garapan manajemen sekolah. Demikian pula proses kerjanya melalui fungsi yang sama pula. 

Organisasi sekolah berjalan karena adanya konsep manajemen yang terstruktur. Manajemen dalam organisasi sekolah sering disebut dengan manajemen pendidikan. Manajemen pendidikan diartikan pula Administrasi pendidikan. Administrasi pendidikan ialah segenap proses penyerahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personal, spiritual, maupun material yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan.

Tujuan pendidikan yang efektif dan efisien adalah tujuan yang bersifat jelas, mengunakan bahasa-bahasa operasional agar mudah dipahami, penyusunan program harus menyeluruh dan saling bersinergi dengan program yang lain sehingga saling memberi manfaat yang positif. Manajemen akan dikatakan bagus apabila manajemen tersebut sejalan dengan konsep dan program yang telah direncanakKitan mencapai keberhasilan lebih dari 95%. Oleh sebab itu para pimpinan sekolah yang menjabat sebagai manajer di lingkungan maupun unit masing-masing perlu mengusahakan manajemen dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah disepakati bersama. Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan.

Manajemen Sekolah bermutu merupakan salah satu model pengelolaan yang memberikan otonomi kepada madrasah atau kepala sekolah untuk pengambilan Pengambilan Kebijakan partisipatif secara langsung sesuai dengan standar pelayanan mutu yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Pengertian Manajemen Sekolah bermutu terjemahan dari “school-based management”. Manajemen Sekolah Bermutu merupakan paradigma baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (pelibatan masyarakat) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Menurut Edmond yang dikutip Suryosubroto menjelaskan bahwa Manajemen Sekolah Bermutu merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan saat ini yang lebih menekankan kepada kretifitas dan kemandirian sekolah. Nurcholis mengatakan Manajemen Sekolah bermutu adalah bentuk alternatif sekolah sebagai hasil dari desentralisasi pendidikan.

Secara umum, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan Pengambilan Kebijakan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (Pendidik, Peserta didik, kepala sekolah, karyawan, orang tua sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Lebih lanjut istilah manajemen sekolah seringkali disejajarkan dengan administrasi sekolah. 

Berkaitan dengan itu, terdapat tiga pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa; pertama, mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi); kedua, melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi (administrasi merupakan inti dari manajemen); dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi.

Pada konsep Manajemen Sekolah bermutu, manajemen hubungan sekolah dengan orang tua wali murid diharapkan berjalan dengan selaras dan beriringan. Hubungan yang harmonis membuat masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memajukan sekolah. Penciptaan hubungan tersebut akan memberikan gambaran yang jelas kepada masyarakat dan stakeholder. Gambaran yang jelas dapat diinformasikan kepada masyarakat umum melalui laporan kepada orang tua wali murid, kunjungan ke sekolah, kunjungan ke rumah murid, penjelasan dari staf sekolah, dan laporan tahunan sekolah.

Melalui hubungan yang harmonis diharapkan tercapai tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu proses pendidikan terlaksana secara produktif, efektif, dan efisien sehingga menghasilkan lulusan yang produktif dan berkulitas. Lulusan yang berkualitas akan terlihat dari penguasaan/kompetensi murid tentang ilmu pengetahuan, keterampilan,dan sikap yang dapat dijadikan bekal ketika terjun di tengah-tengah masyarakat. Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama, yaitu merencanakan(planning), mengorganisasikan (organizing), mengarahkan (directing),mengkoordinasikan (coordinating), mengawasi (controlling),dan mengevaluasi (evaluation).

Adapun Tujuan Manajemen Sekolah Bermutu secara umum, sebagaimana berikut a. Mutu pendidikan yang berkualitas yaitu melalui kemandiriansekolah dan inisiatif sekolah dalam megelola dan memberdayakan sumber daya yang ada, b. Sinergitas warga sekolah dan masyarakat yang baik dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan Kebijakan bersama, c. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya, d. kompetisi mutu anatr sekolah yang sehat untuk barometermutu pendidikan yang sesuai dengan perkembangan saat ini.

Selain itu, Manajemen Sekolah Bermutu akan memberikan beberapa manfaat diantaranya sekolah dapat menyesuaikan dan meningkatkan kesejahteraan Pendidik dan tenaga pengajar sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya sebagai pendidik,Memiliki keleluasaan untuk pengelolaan sumberdaya dan penyertaan masyarakat dalam berpartisipasi di sekolah, serta mendorong profesionalisme sivitas akademika yang ada disekolah, dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah,Pendidik didorong untuk berinovasi, Rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik.

Dalam mengembangkan sekolah perlu adanya Teori dan konsep yang matang dan terencana untuk digunakan dalam mengelola sekolah. Pengembangan tersebut didasarkan pada empat prinsip, yaitu: 1. Equifinality. Prinsip ini berdasarkan teori modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa metode yang berbeda dalam pencapaiantujuan. Manajemen sekolah bermutu lebis menekankan fleksibilitas. Untuk itu sekolah wajib mandiri dan mengelola seluruh aktifitasnya bersama warga sekolah menurut kondisi mereka masing-masing. Karena rumitnya job deskriptionsekolah saat ini dan adanya perbedaan yang signifikan antara sekolah satu dengan yang lainnya, contoh konkritnya adalahperbedaan input peserta didik, sarana prasarana dan situasi akademik sekolah, sekolah tidak dapat dijalankan dengan struktur yang sama di seluruh kota, provinsi, apalagi Negara. 2. Decentralization. Desentralisasi adalah gejala yang penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. Prinsip desentralisasi ini konsisten dengan prinsip ekuifinaltias. Prinsip desentralisasi dilKitasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan aktivitas pengajaran tak dapat dielekakan dari kesultian dan permasalahan. Pendidikan adalah masalah yang rumit dan kompleks sehingga memerlukan desentralisasi dalam pelaksanaannya. 

Prinsip ekuifinalitas yang dikemukakan sebelum mendorong adanya desentralisasi kekuasaan dengan mempersilahkan sekolah memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak, berkembang, dan bekerja menurut strategi-strategi unik mereka untuk menjalani dan mengelola sekolahnya secara efektif.

3. Self-Management System. Prinsip ini terkait dengan prinsip sebelumnya, yaitu prinsip ekuifinalitas dan prinsip desentralisasi. Ketika sekolah menghadai permasalahan maka harus diselesaikan dengan caranya sendiri. Sekolah dapat menyelesaikan masalahnya bila telah terjadi pelimpahan wewenang dari birokrasi di atasnya ke tingkat sekolah. Dengan adanya kewenangan di tingkat sekolah itulah maka sekolah dapat melakukan sistem pengelolaan mandiri. 


4. Human Initiative

Prinsip ini mengakui bahwa manusia bukanlah sumber daya yang statis, melainkan dinamis. Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia harus selalu digali, ditemukan, dan kemudian dikembangkan. Sekolah dan lembaga pendidikan yang lebih luas tidak dapat lagi menggunakan istlah staffing yang konotasinya hanya mengelola manusia sebagai barang yang statis. Lembaga pendidikan harus menggunakan pendekatan human resources development yang memiliki konotasi dinamis dan aset yang amat penting dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan. 

Untuk mengetahui ruang lingkup Manajemen Sekolah dalam pendidikan, penulis harus melihat dari 4 sudut pandang, yaitu; dari sudut obyek garapan, fungsi atau urutan kegiatan, wilayah kerja, dan pelaksana.

Ruang Lingkup Menurut Objek Garapan adalah Seluruh aktifitas manajemen sekolah secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam kegiatan mendidik di sekolah, yaitu:

a. Manajemen Peserta Didik. Kegiatan yang direncanakKitan diusahakan secara sengaja oleh sekolah untuk pembinaan secara kontinu terhadap seluruh peserta didik agar dapat mengikuti proses belajar mengajar (PBM) secara efektif dan efisien, demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Secara kronologis operasional, rentangan kegiatannya mulai dari penerimaan peserta didik baru sampai mereka lulus sekolah.

Manajemen peserta didik menduduki posisi strategis, karena sentral layanan pendidikan, baik dalam latar institusi persekolahan maupun yang berada di luar latar institusi persekolahan, tertuju kepada peserta didik. Semua kegiatan pendidikan, baik yang berkenaan dengan manajemen akademik, layanan pendukung akademik, sumber daya manusia, sumber daya keuangan, sarana prasarana dan hubungan sekolah dengan masyarakat, senantiasa diupayakan agar peserta didik mendapatkan layanan pendidikan yang Kital.

Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah; lebih lanjut, proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Tujuan khusus manajemen peserta didik, yaitu (1) meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik; (2) menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat peserta didik; (3) menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik; (4) dengan terpenuhinya 1, 2, dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.

b. Manajemen personil sekolah 

Proses kegiatan yang direncanakKitan diusahakaan secara sengaja untuk pembinaan secara kontinu para pegawai di sekolah, sehinggga mereka dapat memabantu/menunjang kegiatan sekolah secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Para personel harus dikelola dengan baik agar mereka senantiasa aktif dan bergairaah dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Pegawai pada masa kini memfasilitasi aktualisasi dan pengembangan kompetensi para pegawai melalui program-program pengembangan dan pemberdayaan yang dilakukan secara sistematik. Pengembangan dan pemberdayaan pegawai merupakan bagian dari MSDM (manajemen sumber daya manusia) yang memiliki fungsi untuk memperbaiki kompetensi, adaptabilitas dan komitmen para pegawai. Dengan cara demikian organisasi memiliki kekuatan bukan saja sekedar bertahan (survival), melainkan tumbuh (growth), produktif (productive), dan kompetitif (competitive). Dan dalam proses demikian, dukungan pegawai yang kuat melahirkan organisasi yang memiliki adaptabilitas dan kapasitas memperbaharui dirinya (adaptability and self-renewal capacity).

c. Manajemen Kurikulum

Secara operasional kegiatan manajemen kurikulum meiputi 3 pokok kegiatan, yakni kegiatan yang behubungan dengan Pendidik, peserta didik, dan seluruh civitas Akademika (warga sekolah).

d. Manajemen sarana dan prasarana

Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang penting dan utama dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah, untuk itu perlu dilakukan peningkatan dalam pendayagunaan dan pengelolaannya, agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Dewasa ini masih sering ditemukan banyak sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki oleh sekolah yang diterima sebagai bantuan, baik dari pemerintah maupun masyarakat yang tidak optimal penggunaannya dan bahkan tidak dapat lagi digunakan sesuai dengan fungsinya. Hal itu disebabkan antara lain oleh kurangnya kepedulian terhadap sarana dan prasarana yang dimiliki serta tidak adanya pengelolaan yang memadai.

e.Manajemen tatalaksana

Manajemen tatalaksana merupakan serangakian kegiatan mencatat, menyimpan, menggKitakan, menghimpun, mengolah, dan mengirim benda-benda trertulis serta warkat yang pada hakikatnya menunjang seluruh garapan manajemen sekolah.

e.Manajemen pembiayaan/Keuangan

Manajemen ini bertujuan untuk memberikan pelayanan yang maksimal dalam hal pembiayaan sekolah yang meliputi biasa internal dan eksternal serta pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel. Manajemen keuangan merupakan salah satu gugusan substansi administrasi pendidikan yang secara khusus menangani tugas-tugas yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan yang dimiliki dan digunakan di sekolah. 

Menurut para pakar administrasi pendidikan, manajemen keuangan pendidikan dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pemerolehan dan pendayagunaan uang secara tertib,efektif, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam rangka memperlancar pencapaian tujuan pendidikan.

g. Manajemen organisasi

Salah satu cara yang efektif yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam rangka pengembangan organisasi sekolah yaitu dengan adanya pembagian kerja dan tata kerja sekolah.Pembagian kerja harus jelas dan sesuai dengan tugas bidang atau unit yang dipegang sehingga kegiatan operasional pendidikan semakin efektif dan efisien demi membantu tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Pembagian tersebut berupa job description bagi masing-masing unit agar mempermudah koordinasi, pelaksanaan dan penataan tugas di masing-masing bidang atau unit dalam sekolah tau madrasah tersebut.


h. Manajemen humas dan kerjasama.

Manajemen ini bertujuan untukmendapatkan simapati dari masyarakat pada umumnya serta publiknya pada khususnya, sehingga kegiatan operasional sekolah/pendidikan secara efektif dan efisien, demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Partisipasi yang tinggi dari orang tua murid dalam pendidikan di sekolah merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik, artinya sejauh mana masyarakat dapat diberdayakan 

dalam proses pendidikan di sekolah adalah indikator terhadap manajemen sekolah yang bersangkutan. Pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan ini merupakan sesuatu yang esensial bagi penyelenggaraan sekolah yang baik.

Fungsi Manajemen ialah berbagai jenis tugas atau kegiatan manajemen yang mempunyai peranan khas dan bersifat saling menunjang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Fungsi-fungsi manajemen diantaranya dibagi menjadi enam macam fungsi, yaitu:

1. Perencanaan (Planning)

Mengapa para manajer harus membuat perencanaan? Dengan adanya perencanaan akan dapat mengarahkan, mengurangi pengaruh lingkungan, mempengaruh tumpang tindih, serta merancang standar untuk memudahkan pengawasan.Dengan perencanaan yang dibuat akan dapat mengkoordinir berbagai kegiatan, mengarahkan para manajer dan pegawai kepada tujuan yang akan dicapai. Kemana mereka akan pergi, apa yang mereka harapkan dari semua itu sehingga berkontribusi terhadap pencapaian tujuan, maka mereka seharusnya berkoordinasi, bekerjasama dan sama-sama bekerja.

Tidak itu saja perencanaan adalah konsep matang yang harus dapat melihat sepuluh tahun kedepan, dua puluh tahun kedepan apa dan bagaimana gambaran yang diinginkan. Dengan perncanaan itu kita dapat menentukan job describtion masing-masing unit dan bidang yang ada dalam organisasi kita.

2.Pengorganisasian (Organizing)

roses pengorganisasian adalah kegiatan menempatkan seseorang dalam struktur organisasi sehingga memiliki tanggung jawab, tugas dan kegiatan yang berkaitan dengan fungsi organisasi dalam pencapaian tujuan yang disepakati bersama melalui perencanaan. Pengorganisasian dalam aktivitasnya mencakup hal-hal berikut: a. Siapa melakukan apa b. Siapa pemimpin siapa c. Menetapkan arah komunikasi. d. Memusatkan sumber-sumber daya terhadap sasaran.

2.Menggerakkan (Actuating)

Menggerakkan adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Sehingga dapat terlaksana dengan baik.Dalam konteks Actuating diperlukan kerja praktis dan aksi nyata, tidak memerlukan konsep namun harus berjalan sesui dengan perncanaan yang telah ditetapkan. Tidak itu saja Actuating juga akan memberikan gambaran yang nyata bagi pengelola sampai dimana pelaksanaan secara teknis kerja dan kinerja organisasi yang ada di sekolah untuk mencapai tujuan-tujuannya.

4. Kepemimpinan (Leadership)

kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan pemimpin untuk mereka lakukan. Jadi kepemimpinan berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mempengaruhi orang lain, karena itu intinya adalah hubungan antar manusia c. Pengawasan out put: Pengawasan terhadap ciri-ciri out put yang diinginkan/ standar, out put yang tidak diinginkan, (polusi, bahan buangan, sampah) dari organisasi yang bersangkutan.

5. Penyusunan (Staffing)

Penyusunan disini termasuk perekrutan karyawan, pemanfaatan sarana dan prasarana, pelatihan, pendidikan dan pengembangan sumber daya karyawan tersebut dengan efektif. Keenam Fungsi manajemen tersebut akan dapat melihat kondisi global yang bergulir dan peluang masa depan. Modal ini akan dapat menjadi pijakan yang kuat untuk mengembangkan pendidikan khususnya manajemen sekolah. Pada titik inilah diperlukan berbagai komitmen untuk perbaikan kualitas. Ketika melihat peluang, dan peluang itu dijadikan modal, kemudian modal menjadi pijakan untuk mengembangkan pendidikan yang disertai komitmen yang tinggi, maka secara otomatis akan terjadi sebuah efek domino (positif) dalam pengelolaan organisasi, strategi, SDM, pendidikan dan pengajaran, biaya, serta pengelolaan pendidikan.

Untuk menuju point education change (perubahan pendidikan) secara menyeluruh, maka manajemen pendidikan adalah hal yang harus diprioritaskan untuk kelangsungan pendidikan sehingga menghasilkan output yang diinginkan. Walaupun masih terdapat institusi pendidikan yang belum memiliki manajemen yang bagus dalam pengelolaan  pendidikannya. Manajemen yang digunakan masih konvensional, sehingga kurang bisa menjawab tantangan zaman dan terkesan tertinggal dari modernitas.

Sumber:

Amin Widjaya Tunggal, Manajemen, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2002.

Dedy Mulyasana, 2011, Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Hamalik, Oemar. 2010. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. 

Jogiyanto, 2003, Sistem Teknologi Informasi, Andi Offset, Raymond, McLeod.2001.

Management Information System, Eight Edition. New Jersey: rantice Hall International, Inc Stoner, James. A.F, 2001.

Management, Seventh Edition, New Jersey: rantice Hall International, Inc Rochaety, Ety dkk. 2006.

Sistm Informasi Manajemen Pendidikan . Bumi Aksara, Jakarta McLeod Jr, Raymond. 1996.

Komentar